Header Ads

Agus Sulap Sampah Jadi Gas



KAJEN - Merasa khawatir dengan sampah yang semakin menggunung,Agus Nurokhim (41) warga Desa Sragi, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah berusaha keras mengolah sampah-sampah tersebut,hingga akhirnya berhasil menciptakan kompor sampah injeksi.

"Saya membuat kompor sampah ini dari tahun 2018. Ide awal membuat kompor ini karena melihat sampah-sampah yang menumpuk ,kompor sampah injeksi ini memanfaatkan sampah organik yang diolah menjadi gas metan (biogas),"ungkap Agus Nurokhim,kemarin (01/09/2019).

Berkat inovasinya ini, Agus berhasil mendapatkan juara 2 lomba krenova tingkat Kabupaten Pekalongan.Untuk membuat biogas diperlukan adanya diegester,diegester sendiri adalah alat yang digunakan untuk menghasilkan biogas dengan proses fermentasi sampah organik secara an aerob atau kedap udara.

"Pertama memasukan kotoran hewan,sayuran atau tumbuhan dicampur air dengan perbandingan 1:1, dan setiap hari memasukan sampah organik atau sampah sisa dapur. Biogas akan keluar stelah 14 hari pada proses awal dan setelah itu biogas akan dihasilkan setiap hari, dengan catatan sampah juga dimasukan setiap hari," jelasnya.

Dikatakan,saat ini ia membuat diegester dengan kapasitas 200 liter. Tapi rencananya akhir tahun 2019 ini akan membuat 4 ribu liter dan bahan-bahannya terintergrasi dengan sapiten.

"Biogas akan dimasukkan di sebuah tandon, tandon tersebut berfungsi untuk menampung gas yang dihasilkan dari diegester, tampungan harus rapat, sehingga tidak ada gas yang bocor," tandasnya.

Disebutkan,yang menjadi permasalahan adalah tekanan biogas ini lebih kecil dari LPG, sehingga walapun didalam penampungan biogas masih ada, biogas tidak mampu keluar dan kompor akan mati.

Oleh sebab itu,Agus yang juga guru teknik sepeda motor di SMK Sragi membuat injeksi biogas dengan menggunakan areator aquarium.

"Aerator dimodifikasi bagian input dan out put aliran udara. Bagian input yang seharusnya mengambil udara dari luar dimodifikasi salurannya, disambung dengan slang akuarium dan dihubungkan dengan saluran biogas dari tampungan. Saluran output aerator dihubungkan ke kompor gas. Dengan alat injektor nyala api lebih konstan dan bisa bertahan lama walapun sampai tampungan kempes atau mengecil, asalkan masih ada biogas kompor masih bisa menyala,"imbuhnya.(Ros-Nk)

Diberdayakan oleh Blogger.