Header Ads

Sebabkan Penurunan Tanah,Pemkab Pekalongan Ingin Tutup Sumur Bor



KAJEN - Berdasarkan hasil penelitian ITB penurunan tanah di Kabupaten Pekalongan rata-rata 10 cm-20 cm pertahun. Penurunan tanah ini melebihi Kota Semarang yang rata-rata 10 cm pertahun.Salah satu penyebabnya adalah banyaknya sumur bor atau eksploitasi air tanah.

Untuk itu Pemkab Pekalongan akan menghentikan atau memoratorium penambahan sumur dalam baru di Kabupaten Pekalongan. Hal itu diungkapkan oleh Kasubbid Infrastruktur Bappeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan, Ismail, Rabu kemarin (28/08/2010).

"Penyebabnya adalah eksploitasi air tanah dalam dengan banyaknya sumur bor. Kemudian jenis tanah di wilayah pesisir, yakni tanah jenis aluvial,tanah jenis ini tergolong berusia muda karena terbentuk dari proses sedimentasi sungai selama ratusan tahun, sehingga strukturnya belum kuat atau matang,"ungkapnya.

Menurutnya,memang banyak Pamsimas menggunakan sumur bor termasuk PDAM,bahkan PDAM Kota Pekalongan beberapa sumur dalamnya berada di Kabupaten Pekalongan.

"Regenerasi air dalam ini tidak mudah, lama ngisinya lagi, maka growong. Selain tadi tanah baru dan growong, sehingga terjadi penurunan tanah.Guna menekan laju penurunan tanah pemkab akan menghentikan (moratorium) pembangunan sumur dalam baru, sehingga ke depannya jumlah sumur dalam tidak terus bertambah,"ujarnya.

Namun,perizinan sumur dalam merupakan kewenangan ESDM Provinsi Jawa Tengah.Pihaknya memang ingin menutup sumur-sumur dalam tersebut,tetapi konsekuensinya adalah harus menyediakan sumber air permukaan untuk kebutuhan air minum masyarakat di pesisir.

"Saya berkali-kali soundingkan agar Kabupaten Pekalongan dibantu untuk didibangunkan waduk atau bendungan yang besar,karena ketika musim penghujan yaitu bulan november sampai  april debit air disungai luar biasa dan terbuang begitu saja ke laut,sedangkan mei sampai november sangat minim,untuk irigasi saja kekurangan apalagi untuk air minum,"ungkapnya.

Menurutnya,ketika dibangun waduk maka cadangan air sangat bagus sehingga bisa dimanfaatkan untuk air minum,tenaga listrik,dan pengendalian banjir itu sendiri.

"Namun,kondisi fiskal kita kurang memungkinkan karena mungkin butuh bertriliyun-triliyun.Kalau sumur resapan kurang begitu ngefek sebetulnya karena sumur resapan hanya beberapa meter,untuk mengisi air dalam harus meresapnya dihulu kalau ada waduk dihulu bisa meresap.ada beberapa ahli mengatakan bahwa kalau sumur resapan dipesisir kurang begitu ngefek karena tanahnya saja sudah jenuh,"tandasnya.(Ros-Nk)



Diberdayakan oleh Blogger.