Header Ads

Presiden Aljazair Akan Mundur Sebelum 28 April

Presiden Aljazair Akan Mundur Sebelum 28 April
Aksi unjuk rasa rakyat Aljazair menentang pemerintah Abdelaziz Bouteflika.
(AFP/ MARTIN OUELLET-DIOTTE)
Jakarta - Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika dilaporkan akan mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir pada 28 April 2019. Pengunduran diri itu juga terkait protes rakyat Aljazair dan tekanan militer yang mendesak agar Bouteflika mengakhiri 20 tahun pemerintahannya.

Namun, kantor kepresidenan belum memastikan persis pengunduran diri Bouteflika. Kantor kepresidenan, hanya menyebut sebelum 28 April 2019, "keputusan penting" akan diambil. 

Meski mengundurkan diri, Bouteflika mengatakan pemerintahannya akan terus berjalan dan berfungsi seperti biasa selama masa transisi. Pernyataan pengunduran diri itu disiarkan oleh kantor berita resmi APS, yang dikutip dari AFP, Selasa (2/4).


Gelombang unjuk rasa mengguncang Aljazair setelah Bouteflika mengumumkan akan melanjutkan pemerintahannya. Pernyataan itu diucapkan Bouteflika pada Februari. Ketika itu, dia mengatakan sedang mencari masa jabatan kelima.

Bouteflika sempat meredakan protes dan berjanji tidak akan mengikuti kontestasi lagi, dan menunda pemilihan umum pada April. Tapi, rakyat Aljazair berpandangan langkah Bouteflika itu merupakan taktik untuk memperpanjang kekuasaannya selama dua dekade.

Kemarahan rakyat Aljazair berlanjut, bahkan sejumlah loyalis Bouteflika juga dilaporkan telah telah meninggalkan presiden berusia 82 tahun itu.

Kepala staf angkatan bersenjata Aljazair Jenderal Ahmed Gaid Salah, yang ditunjuk oleh Bouteflika pada tahun 2004, juga memberikan tekanan dan mengatakan presiden harus mengundurkan diri atau secara medis dinyatakan tidak layak untuk memerintah. Bouteflika saat ini terbaring sakit akibat stroke yang dideritanya sejak 2013.

Di tengah kabar rencana pengunduran diri Bouteflika, aparat penegak hukum juga telah melakukan tindakan untuk mencegah sejumlah tersangka korupsi untuk meninggalkan Aljazair.


Pihak berwenang tidak mengatakan target investigasi baru korupsi dan transfer uang ilegal ke luar negeri. Namun, kabar lyang beredar menyebut aparat penegak hukum tengah membidik Ali Haddad, pengusaha penyokong Bouteflika.

Haddad, yang oleh majalah Forbes digambarkan sebagai salah satu pengusaha terkaya di Aljazair, telah ditahan di pos perbatasan dengan negara tetangga Tunisia. Seorang sumber keamanan mengatakan aparat tak menyebutkan alasan penangkapan.

Selama masa transisi pemerintahan Aljazair akan diserahkan kepada Perdana Menteri yang baru ditunjuk Noureddine Bedoui.


(CNN Indonesia)
Diberdayakan oleh Blogger.