Header Ads

Tak Lolos CPNS dan PPPK, Honorer K-II Diupayakan Terima UMR

Tak Lolos CPNS dan PPPK, Honorer K-II Diupayakan Terima UMR
(CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta - Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Supriano mengklaim pemerintah memiliki iktikad baik terkait standar gaji guru honorer. Selama ini, guru honorer diketahui mendapat gaji tidak sama di setiap daerah dan nominalnya kecil.

Menurut Supriano, pemerintah tak hanya berupaya memberikan status yang pasti pada guru dengan mengadakan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun, sambungnya, guru yang tak lulus kedua tes itu akan diupayakan mendapat upah minimun regional (UMR) sebagai guru honorer.

"Pemerintah ini sudah bijak, sudah baik. Kalau dia tidak lulus CPNS, maka dia akan diikutikan PPPK. Ketika dia tidak lulus PPPK, dia akan tetap menjadi guru honorer tetapi dengan standar UMR," ujar Supriano di Kemendikbud, Selasa (2/10).


Kendati demikian, rencana ini belum diketahui kapan akan dijalankan. Pemerintah, kata Supriano, masih akan berfokus pada pengangkatan guru melalui CPNS 2018. Sebanyak 112 ribu guru diangkat melalui jalur tersebut.

Menurut data Kemenpan RB, ada 157 ribu guru honorer K-II yang ada di Indonesia, hanya 80 ribu di antaranya yang bisa mengikuti CPNS. Sisanya, akan mengikuti seleksi calon PPPK yang waktu dan kuotanya akan ditentukan pasca CPNS usai. Ujian PPPK sendiri tidak diharuskan lebih muda dari 35 tahun seperti syarat CPNS. 

Sementara itu, Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan gaji para guru honorer dinilai rendah, salah satunya akibat dibayar dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau Anggaran Belanja Pemerintah Daerah (APBD).


Kualitas Guru dan Pendidikan Berkualitas

Selain itu, Muhadjir menyatakan kualitas guru di Indonesia masih perlu ditingkatkan sebelum membicarakan tentang pendidikan yang berkualitas.

"Kita tahu bahwa guru ini adalah akar rumput. Pendidikan tidak akan ada tanpa guru. Pendidikan tidak akan subur, kalau gurunya yang merupakan akar itu juga tidak subur. Oleh karena itu sebelum berbicara tentang pendidikan berkualitas, sejahterakan dulu guru-guru," ujar Muhadjir dalam sambutannya di acara Peringatan Hari Guru se-Dunia di Gedung Kemendikbud, Selasa (2/10).

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut mengatakan pihaknya masih harus bekerja keras untuk memenuhi hak guru, misal soal kesejahteraan dan statusnya.

"Beri dia status yang membuat dia bangga menjadi guru sehingga dia punya self-dignity. Saya harus akui bahwa di Indonesia hak hak guru itu belum memadai. Karena itu kita berusaha keras untuk memenuhi," katanya.

Guru, katanya, harus senantiasa mengasah kompetensinya sehingga bisa memenuhi tiga syarat sebagai pekerja profesional. Jika tidak, pendidikan anak bangsa menjadi taruhannya.

"Guru itu pekerjaan profesional. Profesional itu syaratnya ada tiga, keahlian, tanggung jawab sosial dan kesejawatan. Kebanggaan bersama. Ciri pekerjaan profesional itu untuk bisa melakukannya adalah latihan yang lama karena kesulitan lebih tinggi. Kalau tidak butuh lama namanya vokasional," paparnya.

(CNNIndonesia)
Powered by Blogger.