Header Ads

Komitmen Bantuan Asing untuk Gempa Palu Capai Rp220 Miliar

Komitmen Bantuan Asing untuk Gempa Palu Capai Rp220 Miliar
Ilustrasi bantuan luar negeri untuk korban Gempa Palu dan Donggala.
 (Dok. Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia)
Jakarta - Total bantuan luar negeri untuk bencana gempa bumi dan tsunami di Palu serta Donggala, Sulawesi Tengah, mencapai sekitar Rp220 miliar, demikian dinyatakan Wakil Menteri Luar Negeri, A.M. Fachir.

"Bantuan dalam bentuk barang mungkin belum bisa dihitung nilainya, Dalam bentuk komitmen ada sekitar Rp220 miliar, ada yang sudah disalurkan langsung misalnya dari Tiongkok US$200 ribu itu langsung ditransfer ke PMI," kata Fachir di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (6/10).

Fachir merinci sejumlah negara yang telah memberikan komitmen untuk membantu Indonesia menangani gempa dan tsunami di Palu serta Donggala, di antaranya Korea Selatan US$1 juta, €1,5 juta, Venezuela US$10 juta, Vietnam US$100 ribu, Laos US$100 ribu, Kamboja US$200 ribu, Jerman €1,5 juta, dan Australia Aus$500 ribu. 


Menurut Fachir, bantuan-bantuan negara lain yang telah masuk ke Indonesia di antaranya dari Korea Selatan, Jepang, Swiss, Singapura, Tiongkok, Qatar, Turki, India, Spanyol, Vietnam, Malaysia, Inggris, Selandia Baru, Australia, Rusia, Pakistan, dan Denmark. 

"Banyak sekali barang-barang yang ada di Makassar dan Balikpapan. Kemudian dikirim ke Palu," ujarnya. 

Fachir menyebut pesawat dari negara sahabat juga masih ada yang berjaga di Palu untuk membantu mengirimkan bantuan yang tersimpan di Makassar maupun Balikpapan, sementara enam pesawat lainnya telah pulang kembali. 


"Ada tujuh pesawat yang masih beroperasi membantu mentransportasikan bantuan," ujarnya. 

Fachri mengatakan bantuan dalam bentuk uang itu digunakan untuk tanggap darurat dan untuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. 

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan bahwa bantuan finansial dari negara sahabat memang tak akan digunakan seluruhnya selama tanggap darurat dan bisa dialokasikan untuk masa pemulihan yang lebih besar. 

"Kita perlukan bantuan ini," kata Sutopo. 


Menurut Sutopo, penggunaan bantuan finansial itu bakal dilakukan audit dan laporan penggunaan bantuan finansial tersebut pun akan diberikan kepada para negara donatur. 
(CNNIndonesia)
Powered by Blogger.