Header Ads

Kelompok HAM: Genosida Rohingya di Myanmar Masih Berlangsung

Kelompok HAM: Genosida Rohingya di Myanmar Masih Berlangsung
Ilustrasi Rohingya. (AFP Photo/KM Asad)
Jakarta - Kelompok pemantau hak asasi manusia Myanmar melaporkan bahwa genosida terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine masih terus berlanjut hingga saat ini.

"Ini sangat penting, genosida terhadap kaum muslim Rohingya masih berlanjut di Myanmar, itu belum berakhir," ujar Direktur Burma Human Rights Network (BHRN), Kyaw Win, dalam wawancara dengan Anadolu.

Win pun mengaku heran karena ada beberapa negara yang berupaya menghalangi pekerjaan timnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan genosida tersebut.

"Beberapa negara di Dewan Keamanan PBB kelihatannya lebih memilih kepentingan mereka daripada kemanusiaan. Beberapa negara menghambat kami dalam masalah Myanmar," tutur Win.


Win mengatakan bahwa selain menjadi korban pembantaian, Rohingya di Rakhine juga dianiaya, tidak bisa mendapatkan pekerjaan, dan tak terpenuhi haknya.

"Sejak awal 2018, 20 masjid telah ditutup di seluruh negeri dan beberapa gereja telah dikunci. Kebebasan beragama berada di bawah ancaman di Myanmar," kata dia.

Ia pun mendesak masyarakat internasional, terutama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), agar memberikan tekanan lebih pada pemerintah Myanmar untuk memecahkan masalah ini sesegera mungkin.


PBB sendiri menyebut Rohingya sebagai kaum yang paling teraniaya di dunia. Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA) melaporkan bahwa sejak bentrokan di Rakhine kembali memanas pada 25 Agustus 2017, hampir 24 ribu orang Rohingya dibunuh.

Tak hanya itu, lebih dari 34 ribu orang Rohingya dibakar, sementara lebih dari 114 ribu lainnya disiksa.

Sebanyak 18 ribu perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115 ribu rumah dibakar, dan 113 ribu lainnya dihancurkan.


Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya yang terdiri dari anak-anak dan perempuan melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh pada Agustus 2017.

PBB juga telah mendokumentasikan berbagai pemerkosaan dan pembunuhan secara massal termasuk bayi serta anak kecil yang dilakukan oleh pasukan militer Myanmar.

Dalam laporannya, penyelidik PBB menyatakan bahwa kekerasan tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

(CNNIndonesia)
Powered by Blogger.