Header Ads

Selain Beri Bansos, Begini Cara Kemensos Tangani Kemiskinan

Selain Beri Bansos, Begini Cara Kemensos Tangani Kemiskinan
Dirjen Penanganan Fakir Miskin Andi ZA Dulung (Foto: dok. Kemensos)
Manado - Dalam menangani kemiskinan di Indonesia, Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Andi ZA Dulung menyatakan pemberian bantuan sosial (bansos) saja tak cukup dilakukan. Maka diperlukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) untuk mencegah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) kembali jatuh miskin.

"Penurunan kemiskinan melalui bansos tidaklah cukup karena masih ada kemungkinan para KPM akan kembali jatuh miskin jika bansos dihentikan. Maka dari itu diperlukan KUBE," ujar Andi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/9/2018).

Hal tersebut disampaikan saat Andi membuka kegiatan Sinkronisasi Program dan Anggaran Dekonsentrasi 2019 Direktorat PFM Pesisir, PPK, dan PAN di Swiss-Bell Hotel Maleosa Manado, Selasa (4/9/2018). Turut hadir dalam acara ini antara lain 22 orang peserta yang terdiri dari Kepala Bidang PFM Dinas Sosial dari 11 provinsi dan aplikator perencanaan wilayah III.
Andi menegaskan dalam menentukan KUBE, masyarakat perlu menentukan pasar lebih terdahulu sebelum dikerjakan.

"Namun dalam menentukan KUBE bagi masyarakat diharapkan untuk melihat pasarnya terlebih dahulu, bukan apa yang bisa dikerjakan lebih dulu. Hal tersebut mungkin berhasil, akan tetapi pada saat produknya sudah jadi, akan bingung mau dijual ke mana dan akan laku atau tidak," jelas Andi.

Ia pun memberi beberapa contoh terkait penentuan KUBE. Untuk wilayah yang banyak terdapat tanaman kelapa, kata Andi, pasti di sana banyak produk turunannnya seperti tepung kelapa, sabut, hingga bagian kelapa untuk dikonsumsi. Maka permintaan akan hal-hal tersebut akan banyak di sana.

"Tapi untuk daerah-daerah pesisir, langkah pertama akan dicoba terlebih dahulu dengan ikan bandeng. Jadi KPM diberikan ikan bandeng lalu dicabut durinya dan dijual lagi sehingga ada value added-nya. Uang Rp 2 juta yang diterima KPM, dibelikan ikan bandeng seharga Rp 25 ribu per kilo dan peralatan awal. Nanti setelah durinya dicabut, dijual kembali seharga Rp 30 ribu agar mendapat untung Rp 5 ribu per kilonya," paparnya.

Andi turut mengingatkan agar pemimpin daerah untuk melihat potensi daerahnya masing-masing serta mengarahkan apa saja yang bisa dikerjakan KPM masyarakat miskin. Sementara uang senilai Rp 2 juta yang diterima sebagai startup bisa digunakan untuk membeli bahan baku dan peralatan awal.
Jika membutuhkan modal tambahan, Menteri Keuangan telah menyiapkan usaha mikro ekonomi berupa pinjaman sebesar Rp 2 hingga 10 juta. Bila KPM berhasil dan maju, usaha tersebut bisa mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

"Jadi sekarang kita sudah memikirkan betul semua ini mengenai sejak KUBE dari awal terbentuk," pungkasnya.

(Detik.com)


Powered by Blogger.