Header Ads

Iran Menyerang Basis Kelompok Oposisi Kurdi Irak

Iran Menyerang Basis Kelompok Oposisi Kurdi Irak
Ilustrasi. (REUTERS/Ako Rasheed)
Jakarta - Iran menyerang basis kelompok oposisi Kurdi Iran di Irak utara pada Sabtu (8/9) waktu setempat, menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai sejumlah warga.

Dikutip dari Reuters, Partai Demokratik Iran Kurdistan (PDKI) mencuitkan gambar dan video ledakan dengan orang-orang yang terluka di markasnya di Koya, wilayah Kurdistan semi-otonomi Irak. PDKI merupakan kelompok oposisi bersenjata yang berjuang untuk otonomi wilayah bagi masyarakat Kurdi Iran.

"Menurut laporan awal, 11 orang tewas dan sekitar 20 hingga 30 orang terluka. Serangan itu menargetkan konferensi yang diadakan oleh kantor wilayah partai pagi ini," kata Mayjen Jabbar Yawar, juru bicara pasukan keamanan Kurdi Peshmerga Irak.


Dia mengatakan serangan itu datang dari wilayah Iran, tetapi pemerintah belum dapat memastikan hal itu berupa serangan udara atau penembakan di darat.

Kementerian Luar Negeri Iran belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar, dan tidak ada laporan tentang insiden di kantor berita utama Iran.

Dalam akun Twitter PDKI yang terverifikasi, disebutkan bahwa Iran menggunakan rudal jarak jauh dalam serangan terkoordinasi terhadap basis PDKI dan kamp pengungsi yang berdekatan.

Yawar mengatakan daerah yang diserang itu termasuk kompleks perumahan untuk keluarga anggota partai.


Sebelumnya, Iran telah menembaki kelompok oposisi Kurdi bersenjata yang berbasis di Irak. PDKI mengaku telah dikepung pada Kamis (6/9) lalu, tetapi tidak ada laporan mengenai korban.

Pemerintah Daerah Kurdistan (The Kurdistan Regional Government/KRG) mengutuk penembakan yang terjadi kemarin. Menurut mereka, hukum Kurdi dan integritas teritorial harus dihormati.

Di sisi lain, Turki juga meningkatkan serangan udara di pangkalan Partai Buruh Kurdistan (Kurdistan Worker's Party/PKK) di Irak utara tahun ini. Secara rutin, Turki menargetkan kubu PKK di pegunungan Qandil, dekat perbatasan dengan Iran, di mana Ankara mencurigai keberadaan para anggota militan yang berpangkat tinggi.


(CNNIndonesia)
Powered by Blogger.