Header Ads

Presiden Iran Tantang Trump Berdialog 'Sekarang Juga'

Presiden Iran Tantang Trump Berdialog 'Sekarang Juga'
Presiden Iran Hassan Rouhani(REUTERS/Faisal Mahmood)
Jakarta - Setelah sempat menolak tawaran Presiden Donald Trump untuk berunding, Presiden Hasan Rouhani mengatakan Iran bersedia berdialog dengan Amerika Serikat 'sekarang juga'. Pernyataan Rouhani disampaikan menjelang pengumuman Trump untuk memberlakukan sanksi ekonomi kepada Iran, Selasa (7/8) malam.

"Saya tidak memiliki persyaratan apapun. Jika pemerintah AS bersedia [berdialog], mari kita mulai sekarang juga," ucap Rouhani dalam sebuah wawancara yang ditayangkan di stasiun televisi Iran, Senin (6/8).

Rouhani memberi sinyal bahwa pemerintahnya bersedia berdialog jika Gedung Putih mencabut sanksi yang dijatuhkan kepada Iran.


Meski begitu, Rouhani mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Trump merupakan orang yang tidak dapat dipercaya.

Dia juga menyinggung bahwa selama menjabat sebagai presiden, Trump telah menarik AS keluar dari sejumlah perjanjian internasional, termasuk kesepakatan nuklir dengan Iran.

"Orang yang mengaku bersedia negosiasi telah menarik AS keluar dari semua komitmen internasional, mulai dari Perjanjian Iklim Paris hingga komitmen bisnisnya dengan negara lain," kata Rouhani seperti dikutip CNN.

Dalam kesempatan itu, Rouhani menuding bahwa sanksi terbaru dan retorika yang diterapkan Washington kepada Teheran hanyalah strategi Trump untuk meningkatkan elektabilitas pemerintahannya di dalam negeri menjelang gelaran pemilihan umum sela November mendatang.


"Jika musuh yang mengarahkan pisau kepada kami dan mereka mengatakan ingin bernegosiasi, jawabannya adalah pertama kali mereka harus menarik pisau tersebut baru kemudian datang ke meja perundingan," tuturnya.

"Sanksi-sanksi ini menargetkan seluruh masyarakat Iran termasuk anak-anak. Saya percaya bahwa AS ingin mengobarkan perang psikologis dan menciptakan skeptisme terhadap Iran untuk keuntungan dalam pemilihan Kongres."

Rouhani mengatakan sanksi yang diterapkan Trump kepada negaranya hanya membuat AS semakin terisolasi. Sebab, menurutnya, masih banyak negara lain yang ingin berbisnis dengan Iran.

"Saya pikir jika dalam persatuan, kita bekerja sama, kita jusreu akan membuat AS menyesal tindakannya ini. Jika kita bekerja sama, dunia akan mengerti dan Amerika akan mengerti jika sanksi-sanksi ini tidak efektif," tutur Rouhani merujuk kepada sanksi baru AS yang akan mulai berlaku hari ini, Selasa (7/8).

  
Secara khusus, Rouhani bahkan mengatakan China dan Rusia mengindikasikan tidak akan patuh pada sanksi AS tersebut meski Trump telah mengancam "akan ada konsekuensi berat" bagi negara-negara yang berkeras untuk tetap berhubungan dengan Iran.

"Bulan lalu saya pergi ke Eropa dan menggelar pembicaraan dengan China. Mereka berjanji bahwa mereka akan mengabaikan sanksi Amerika," tutur papar Rouhani.

"China adalah mitra dagang terbesar kami. China dan Rusia menyatakan dengan jelas bahwa mereka tetap mempertahankan kerangka kerja sama dengan kami."

Pernyataan itu diutarakan Rouhani menanggapi tawaran Trump yang bersedia bertemu pemimpin Iran tanpa syarat dalam rangka membahas perbaikan hubungan kedua negara setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran 2015.

Namun, dalam kesempatan berbeda, penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton, menganggap pernyataan Rouhani tersebut hanya sebagai "propaganda" belaka.

"Mari kita lihat apa yang benar-benar terjadi atau apakah ini tak lebih dari propaganda," papar Bolton di Washington.


 "Jika Iran benar-benar mau datang dan berbicara tentang semua perilaku buruk mereka di kawasan dan seluruh dunia, saya pikir mereka akan melihat bahwa Presiden Trump benar-benar mau melakukannya."

Bolton menegaskan bahwa Trump telah bersikap "konsisten" untuk melakukan negosiasi dengan rezim seperti Iran dan Korea Utara.

(CNNIndonesia.com)  
Powered by Blogger.