Header Ads

Warga Kandangserang Ikuti Pelatihan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat

KAJEN   PMI Kabupaten Pekalongan mengadakan Pelatihan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat Kabupaten Pekalongan Tahun 2018 untuk masyarakat desa Gembong, Klesem dan Bodas yang digelar di Balai Desa Gembong Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 3 hari  dari hari Jumat s/d Minngu tanggal 27 April 218 hingga 29 April 2018 di Balai Desa Gombong dengan sumber dana menggunakan dukungan PMI Kab. Pekalongan sebesar 21.juta 908 ribu rupiah. Narasumber pelatihan tersebut adalah Tim Pelatih PMI Kabupaten Pekalongan dan Pelatih PMI Jawa Tengah.

Adapun kegiatan tersebut dalam rangka untuk menggerakkan, memotivasi dan memobilisasi masyarakat dalam upaya kesiapsiagaan dan pengurangan resiko/mitigasi serta tanggap darurat bencana, termasuk kegiatan KBBM (Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat) Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT),yang bertujuan agar masyarakat desa Gombong, Klesem dan Bodas memiliki pengetahuan kepalangmerahan dan bergabung menjadi sukarelawan PMI. Serta yang tidak kalah pentingnya agar mereka memiliki kapasitas dibidang Siaga Bencana Berbasis Masyarakat.

Pelatihan tersebut diikuti oleh 30 orang peserta dari masyarakat desa Gembong, Klesem dan Bodas yang berusia antara 17 hingga 35 tahun dengan jumlah peserta perempuan minimal 30% dari total peserta.

Ketua PMI Kabupaten Pekalongan Ir. Arini Harimurti dalam sambutannya saat membuka acara Pelatihan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (27/4) menyampaikan, Propinsi Jawa Tengah menempati rangking 13 resiko tinggi bencana di tingkat Nasional dari 26 propinsi di Indonesia. Dan untuk Kab/Kota di Jawa Tengah, Kabupaten Pekalongan menduduki rangking 10 kategori tinggi resiko bencana.

Hal tersebut menjadikan PMI Kabupaten Pekalongan memandang perlu untuk melatih masyarakat khususnya masyarakat di wilayah Kandangserang sebagai  anggota SIBAT agar para relawan ini dapat berperan sebagai ujung tombak dalam penanganan bencana yang terjadi ditengah tengah masyarakat. “Kegiatan ini merupakan salah satu program prioritas PMI untuk memberdayakan masyarakat dalam penanggulangan bencana. Urusan PMI kini tidak lagi hanya urusan donor darah, tetapi juga permasalahan sosial dan kemanusiaan,” tegasnya

Lebih lanjut Arini mengatakan, dengan adanya SIBAT diharapkan masyarakat dapat lebih memiliki inovasi dan kreasi untuk pengembangan kapasitas masyarakat. Menurutnya, dalam menjalankan fungsinya untuk pelayanan kepada masyarakat, PMI membutuhkan relawan-relawan yang sigap membantu program kerja PMI Kabupaten Pekalongan, khususnya dalam penanganan bencana alam yang belakangan terjadi, seperti tanah longsor, banjir, kebakaran dan sebagainya.

 “Saya berharap dengan pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas relawan SIBAT dalam pengetahuan, sikap, dan ketrampilan secara terintegrasi didalam lingkungan tempat tinggal masing-masing,” harapnya.

Ditambahkan Arini, Para ahli Gempa Bumi Indonesia yang tergabung dalam Pusat Studi Gempa Bumi meluncurkan hasil penelitiannya tentang sumber gempa dan bahaya kegempaan di Indonesia tahun 2017. 

“Fakta yang cukup mengejutkan adalah ditemukannya sumber gempa baru sebanyak 242 jalur dari sebelumnya yang telah diindikasikan sebanyak 53 sumber gempa. Beberapa kota besar di Indonesia terindikasi dalam zona bahaya gempa bumi,” terangnya.

Dijelaskannya pula, hasil survey di Jepang pada kejadian gempa Great Hanshin Awaji 1995 menunjukkan bahwa presentase korban selamat dalam durasi “golden time” disebabkan oleh kesiapsiagaan diri sendiri sebesar 34,9%, dukungan anggota keluarga 31,9%, teman/tetangga 28,1%, orang lewat 2,60%, regu penolong 1,70%, dan lain-lain 0,90%. 

“Berdasarkan data tersebut sangat jelas faktor yang paling menentukan adalah penguasaan pengetahuan penyelamatan yang dimiliki oleh “diri sendiri”, keluarga dan komunitas diserkitarnya,” pungkasnya. 
Powered by Blogger.