Header Ads

Aksi 115, Modal Jokowi Bela Palestina di Dunia Internasional

Aksi 115, Modal Jokowi Bela Palestina di Dunia Internasional
Aksi 115 yang bertema penolakan terhadap kebijakan AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, di Monas, Jakarta, belum lama ini. (CNN Indonesia/Nindya Maharani).
Jakarta - Puluhan ribu orang berpakaian serba putih turun ke jalan dalam Aksi 115, Jumat (11/5). Mereka berkumpul dan memutihkan Monas, Jakarta Pusat, membela Palestina dan mengecam kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memindahkan kedubes mereka di Tel Aviv ke Yerusalem.

Para peserta yang menamai diri Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis ini juga mengisi aksi dengan doa bersama dan orasi kebangsaan. Tujuannya satu, mendesak Amerika untuk membatalkan kebijakan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Yon Machmudi, Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, menilai aksi yang dilakukan para ormas Islam memang tak bisa berdampak langsung dengan kebijakan Trump.

"Paling tidak memberikan sinyal kepada pemerintah yang memberikan dukungan kepada Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel," ujar dia.Namun, aksi-aksi ini bisa jadi modal Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk maju membela Palestina di kancah internasional.

"Ini bisa digunakan sebagai kekuatan moral dan pijakan pemerintah untuk melakukan lobi-lobi di negara internasional," kata Machmudi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (11/5).

Sebelumnya, sudah ada sejumlah aksi serupa yang dilakukan berbagai kalangan dan ormas Islam di Indonesia, salah satunya, aksi pada 17 Desember 2017.

Aksi-aksi ini, lanjut Machmudi, bisa jadi peringatan bagi Pemerintah Amerika Serikat dan negara lain yang mendukung Israel. Sebab, aksi serupa bukan hanya dilakukan di Indonesia, melainkan di banyak negara.

Machmudi menambahkan bahwa pemerintah Indonesia cukup intens melakukan komunikasi politik kepada negara-negara eropa agar tak mendukung kebijakan Trump itu.

"Menlu intensif menghubungi anggota OKI dan Uni Eropa untuk kemudian tetap komitemn harus menentang kebijakan Amerika," tegas dia.

Tekanan Indonesia untuk Dunia
Ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Muhammadiyah Muhyiddin Junaidi bercerita tentang kunjungannya ke Palestina, Januari. Saat itu ia hadir untuk melakukan pertemuan internasional.

Namun, yang terjadi adalah Muhyiddin mengaku diadang oleh tentara Israel. Setelah melihat kejadian ini, Muhyiddin menilai bisa jadi kebijakan Trump nantinya akan menimbulkan gerakan-gerakan radikal.

Karena itu ia menegaskan perlu ada tekanan dari akar rumput untuk menyadarkan bahwa kebijakan Trump itu adalah melanggar aturan.

"Karena ini sangat berbahaya. Pada akhirnya dia akan menciptakan kelompok radikal dan ekstrimis baru yang akan melakukan instabilitas di kawasan tersebut," kata Muhyiddin kepada CNNIndonesia.

Ia memandang Aksi 115 itu sebagai tekanan untuk dunia dan menjadi pijakan bagi Indonesia untuk menolak kebijakan tersebut. Tak menutup kemungkinan, aksi itu akan terus datang sampai Trump mengubah kebijaknnya.

"Selama PBB dan mereka [AS] tidak mendengarkan suara umat Islam, maka semakin banyak demo dan gelombang dukungan terus," ujarnya.

Muhyaddin juga meminta Pemerintah Indonesia agar tak mengubah sikap dan terus berupaya mewujudkan perdamaian di tanah Timur Tengah tersebut sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945."Indonesia tidak akan mengubah sikapnya tentang negara Palestina, sampai negara Palestina merdeka," tandas dia.

(CNNIndonesia) 
Powered by Blogger.