Header Ads

Pola Padat Karya Tunai Ancam Lunturnya Gotong Royong,Bupati Buat Kebijakan

KAJEN - Desa Sinangoh prendeng menjadi desa pertama yang melaksanakan Pola Padat Karya Tunai dengan membangun saluran irigasi, sesuai dengan kebijakan Pemerintah yaitu  30 persen alokasi dana desa untuk infrastruktur harus dikerjakan secara swakelola dengan pola padat karya tunai. Jum'at (27/4).

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menyatakan  kebijakan Pola Padat Karya Tunai ini bisa mengancam lunturnya nilai-nilai gotong-royong di pedesaan, sebab masyarakat akan terbiasa menerima upah atau kompensasi dari dana desa,Padahal, desa memiliki tiga sumberdaya yang harus dioptimalkan. 

"Pertama,  sumber daya alam berupa kesuburan tanah dan kekayaan alam di desa. Kedua, sumber daya manusia yang banyak dan saat ini jenjang pendidikan masyarakat di desa sudah tinggi. Dan, ketiga adalah sumber daya sosial, yakni nilai-nilai guyup, gotong-royong, dan kearifan lokal lainnya,"ungkapnya.

Untuk itu,agar tidak terdistorsi, karena semua pekerjaan di desa mendapatkan kompensasi dari dana desa, maka di Kabupaten Pekalongan membuat kebijakan agar di hari terakhir supaya masyarakat bergotong royong alias tetap bekerja namun tanpa dibayar.


"Ada aspek gotong-royongnya dan  ini tidak dibayar. Upaya ini sebagai bentuk mempertahankan nilai-nilai kegotongroyongan. Jadi padat karya tunai jalan, gotong-royong juga tetap jalan," ungkap Asip.

Dikatakan,spirit desa adalah gotong-royong, kekuatan desa juga ada di gotong-royong. Sehingga jangan sampai hilang gara-gara menerapkan pola padat karya. 

"Padat karya jalan, gotong-royongnya juga harus tetap jalan," jelasnya.

Pembangunan saluran irigasi RT 01 RW 05 di Desa Sinangohprendeng menggunakan alokasi dana desa tahap I sebesar Rp 123 juta lebih. Pembangunan saluran irigasi ini dengan pola padat karya tunai, dengan menyerap tenaga kerja lokal atau masyarakat desa setempat. Setiap harinya, para pekerja diberi upah Rp 75 ribu, dengan bekerja selama delapan jam.

 "Ini yang 'free' (pekerjaan di hari terakhir), tidak ada ongkosnya atau kompensasi dari dana desa. Kami minta dari seluruh warga desa agar pada hari terakhir untuk gotong-royong, semua terlibat. Di desa ini ada 400 orang lebih yang akan terlibat di padat karya ini,"Pungkasnya. 
Powered by Blogger.