Header Ads

Supermoon Akibatkan Laut Pasang,Rob Diperkirakan Semakin Besar

KAJEN -  Dampak fenomena Bulan Besar atau supermoon yang terjadi pada awal tahun dan di akhir Januari 2018 diperkirakan akan menyebabkan terjadinya peningkatan pasang air laut maksimum yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir rob. 
 
BPBD Kab.Pekalongan mengimbau kepada masyarakat di 15 desa dan 1 kelurahan di wilayah pesisir Kabupaten Pekalongan untuk mewaspadai fenomena supermoon tersebut.
 
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena ini akan terjadi antara 1-4 Januari 2018 dan 29 Januari - 2 Februari 2018.
 
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko,mengatakn bahwa ada 15 desa dan 1 kelurahan di empat kecamatan di wilayah pesisir Pekalongan perlu mewaspadai adanya fenomena supermoon tersebut. 
 
"Yakni, Desa Jeruksari, Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo di Kecamatan Tirto, dan Desa Pecakaran, Api-api, Wonokerto Wetan, Wonokerto Kulon, Tratebang, Pesanggrahan, dan Semut di Kecamatan Wonokerto. Selanjutnya, Desa Depok, Blacanan, Yosorejo, dan Boyoteluk di Kecamatan Siwalan, dan Kelurahan Bener di Kecamatan Wiradesa. "
 
Kepala Desa Semut, Sunoto, menyatakan, wilayah di desanya yang paling berbahaya dari ancaman banjir rob adalah di Dukuh Simonet. Puluhan kepala keluarga di wilayah ini hidup berdekatan langsung dengan lautan lepas. Akses menuju ke pedukuhan tersebut juga sulit karena harus menyeberangi muara di TPI Wonokerto. 
 
"Paling parah di dukuh itu. Puluhan kepala keluarga hidupnya memprihatinkan karena paling parah terdampak rob. Namun, mereka enggan untuk direlokasi," ujar dia.
 
Rencana pemerintah pusat membangun tanggul raksasa dari Sungai Sragi Baru di Kabupaten Pekalongan hingga Bandengan, Kota Pekalongan diperkirakan belum mampu mengatasi persoalan rob di pedukuhan tersebut. Pasalnya, lokasi tanggul itu sekitar 2 kilometer di sisi selatan pedukuhan tersebut, atau jika dilihat posisi dari laut wilayah Dukuh Simonet berada di luar tanggul yang dibangun pemerintah itu.
 
 "Warga Simonet justru cemas tanggul itu akan memperparah rob di Simonet, sebab dukuh ini berada di luar tanggul," katanya.
 
Apalagi akses jalan menuju pedukuhan itu sulit. Warga setempat biasanya menyeberangi muara dengan menggunakan kapal. 
 
"Untuk sekali menyeberang, mereka mengeluarkan ongkos antara Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu. Oleh karena itu, jika terjadi banjir rob besar sulit untuk mengevakuasi warga pedukuhan tersebut.Bupati pernah mengusulkan akan membangun jembatan di muara itu. Jembatan ini bisa buka-tutup, sehingga kapal-kapal tetap bisa melintas,"ungkapnya.
 
Powered by Blogger.