Header Ads

Suu Kyi Akan Kunjungi China di Tengah Krisis Rohingya

Suu Kyi Akan Kunjungi China di Tengah Krisis Rohingya
(Reuters/Staff/File Photo)

Jakarta - Pemimpin de facto Myanmar, Penasihat Negara Aung San Suu Kyi, dijadwalkan mengunjungi China dalam waktu dekat di tengah krisis kemanusiaan di Rakhine yang masih berlangsung. Krisis yang diakibatkan persekusi militer itu memicu eksodus ratusan ribu minoritas Muslim Rohingya ke Bangladesh dalam tiga bulan terakhir.

Media pemerintah yang dikutip Reuters, Global New Light of Myanmar, melaporkan Suu Kyi akan segera berangkat ke Beijing untuk memenuhi undangan dari Partai Komunis China dalam forum politik yang juga akan dihadiri oleh sejumlah kepala negara lainnya.

Mengutip kantor berita Xinhua, Suu Kyi akan bertandang ke Negeri Tirai Bambu pada 30 November hingga 3 Desember mendatang. Meski begitu, juru bicara Suu Kyi, Zaw Htay, belum dapat dihubungi untuk mengonfirmasi kabar tersebut.

Beijing, sebagai sekutu dekat Naypyidaw, sejauh ini tak berbuat banyak merespons krisis yang menimpa minoritas Muslim Rohingya.

Meski mengutuk segala kekerasan yang terjadi, China tetap mendukung setiap langkah yang dilakukan militer Myanmar dalam menyelesaikan krisis, termasuk operasi pembersihan di Rakhine.

Berita lawatan Suu Kyi muncul tak lama setelah Panglima Militer Myanmar Min Aung Hlaing lebih dulu bertandang ke Beijing untuk menemui Presiden Xi Jinping.

Dalam pertemuannya, Xi sepakat memperkuat relasi dengan militer Myanmar di tengah tudingan pelanggaran HAM yang dilakukan angkatan bersenjata terhadap Rohingya dan etnis minoritas lainnya.

Myanmar terus menjadi sorotan dunia menyusul kekerasan yang diduga dilakukan secara sistematis oleh militer dan polisi untuk mengusir Rohingya. Kekerasan itu dipicu bentrokan antara kelompok bersenjata dan militer Myanmar di Rakhine pada 25 Agustus lalu.

Alih-alih menangkap kelompok bersenjata, militer dan polisi diduga malah menyiksa, mengusir, membakar desa, hingga membunuh etnis Rohingya. Hingga kini, sekitar 1.000 orang, terutama dari etnis Rohingya, diperkirakan tewas dalam krisis tersebut.

Menanggapi, Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menuding militer Myanmar melakukan upaya pembersihan etnis terhadap Rohingya dan meminta mereka bertanggung jawab.

Sejumlah negara lain pun mendesak Myanmar segera menyelesaikan krisis dan meminta Suu Kyi segera melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan pelanggaran HAM di negaranya.(Sumber CNN Indonesia)
Powered by Blogger.