Header Ads

Beras Penyumbang Inflasi Terbesar

PEKALONGAN-Inflasi Kota Tegal pada Bulan Oktober 2017 tercatat 0,21 persen.  Inflasi indeks harga konsumen (IHK) 3,24 persen (year to date) dan 3,50 persen (year on year). Inflasi Kota Tegal ini, merupakan yang tertinggi se-Jawa Tengah.

“Inflasi Oktober 2017 lebih tinggi dibanding historisnya,” terang Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal Joni Marsius pada Rapat Koordinasi Wilayah TPID eks-Karesidenan Pekalongan di Hotel Santika, Senin (13/11).

Menurutnya, inflasi Tegal pada Oktober 2017 didorong komoditas kelompok inti (core) dan komponen bergejolak (volatile food) . “Pada Oktober ini, beras menyumbang inflasi terbesar, 0,17 persen,” sambungnya.

Lebih lanjut Joni Marsius menjelaskan, inflasi komoditas beras signifikan hingga 3,51 persen secara bulanan atau month to month (mtm) yang memberi sumbangan inflasi tertinggi sebesar 0,1708 persen. Selain beras, kenaikan tarif akademi atau perguruan tinggi juga menyumbang inflasi 0,07 persen, cabai merah 0,03 persen, kontrak rumah 0,03 persen dan emas perhiasan 0,02 persen.

“Tantangan ke depan, inflasi beras belum stabil. Kurangnya pasokan karena gangguan hama dan potensi gangguan cuaca dan kenaikan harga gabah kering panen karena naiknya kualitas gabah pada musim panen gadu,” paparnya.

Sementara itu Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Jawa Tengah Tulus Budiyono mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan beras sebagai penyumbang terbesar inflasi pada Bulan Oktober. Di antaranya distribusi beras.

Menurut dia, produksi beras di Jawa Tengah sebenarnya surplus. Namun, diperebutkan dari Jawa Barat dan Jawa Timur. “Beras, panennya sporadis. Di sini panen, di sana tidak panen. Sehingga pelaku beras bergerilya kemana-mana. Apalagi sekarang sudah ada WA (whatsapp), gerilyanya semakin tinggi. Saat di Solo raya panen, dari Jawa Barat dan Jawa Timur menyerbu ke sana,” paparnya.

Faktor lainnya yaitu alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan terganggunya infrastruktur pertanian karena pembangunan jalan tol. Tulus mencontohkan, di Boyolali ada beberapa hektar sawah tidak bisa ditanami selama dua musim karena saluran irigasi teknis tersumbat akibat pembangunan jalan tol. “Pihak tol harus bekerja sama dengan pihak terkait untuk mencarikan alternatif saluran irigasi yang masuk ke petak-petak sawah,” kata Tulus
Powered by Blogger.