Header Ads

Konsumen PDAM Tirta Kajen Keluhkan Kecilnya Aliran Air

KAJEN - Konsumen PDAM Tirta Kajen mengeluhkan aliran air di beberapa wilayah crat-crit atau kecil sekali alirannya,bahkan sudah terjadi satu pekan lebih. Akibatnya banyak kalangan ibu rumah tangga yang mengaku merasa kesulitan Sebab, pakaian kotor menumpuk karena tidak bisa dicuci akibat kelangkaan air, hingga mandi pun terpaksa menumpang di rumah tetangga yang menggunakan sumber air selain PDAM.

Warga Perum Pesona Griya Karanganyar, Desa Karangsari, Kecamatan Karanganyar,Dewi (40) Rabu (12/7), menuturkan, sudah sepekan lebih, atau sejak Lebaran 2017 lalu, aliran air PDAM di rumahnya kecil sekali. Sehingga, keluarganya kesulitan untuk mendapatkan pasokan air bersih, terutama untuk memenuhi kebutuhan MCK (mandi, cuci, masak). 

"Saya tadi malam nunggu hingga pukul 02.00 WIB dinihari, air PDAM belum keluar hingga akhirnya tertidur. Padahal, banyak pakaian kotor menumpuk untuk dicuci. Karena tidak ada air, nyuci pakaian sulit. Mandi pun saya terkadang numpang di rumah tetangga yang masih menggunakan air sumur," keluhnya.

Konsumen lain, Mbak Ris (38) terpaksa menghidupkan lagi sumur di rumahnya yang sudah lama tidak digunakan. "Di perumahan dulu ada fasilitas sumur, namun saya memilih menjadi pelanggan PDAM. Akhir-akhir ini, PDAM airnya macet, makanya sumur tak hidupkan lagi untuk sumber air cadangan selama PDAM airnya sulit," tutur dia.

Adapun, kalangan DPRD Kabupaten Pekalongan juga menyoroti kinerja PDAM. Anggota DPRD Kabupaten Pekalongan dari Fraksi PAN, Sofwan Sumadi, menilai kinerja PDAM belum kreatif dalam menggali sumber air yang melimpah di Kabupaten Pekalongan. Selain itu, pelanggan PDAM pun dari dulu dinilai masih terlalu sedikit, yakni sekitar 8 persen dari masyarakat Kabupaten Pekalongan. 

"PDAM selama ini tidak kreatif. Banyak sumber air bersih tidak dioptimalkan dengan baik, misalnya sumber dari Kali Paingan. PDAM hanya mengandalkan sumur bor yang biayanya tinggi," katanya.

Direktur PDAM Tirta Kajen, Imam Sulistyo, dikonfirmasi, mengakui memasuki musim kemarau, ada penurunan debit dari sumber air PDAM sekitar 10 persen. Untuk kondisi normal, rata-rata sumber air yang dimiliki PDAM kapasitasnya 170 liter perdetik. Selain itu, untuk menghadapi musim kemarau, pihaknya juga melakukan perbaikan-perbaikan jaringan, sehingga ada ketidakstabilan di beberapa jaringan.

 "Untuk wilayah Karanganyar memang masih ada maintenance (pemeliharaan) jaringan distribusinya, sehingga ada ketidakstabilan. Seminggu kita konsentrasi untuk itu. Ini (pemeliharaan) juga dalam rangka menghadapi musim kemarau," katanya.

Disinggung soal penilaian PDAM yang tidak kreatif mengoptimalkan sumber air yang melimpah di Kabupaten Pekalongan, Imam mengungkapkan, masukan dari DPRD sudah ditampung dan dianalisa. Diakuinya, di Kabupaten Pekalongan sumber air bersih cukup banyak, karena sungai-sungai besar jumlahnya banyak. Namun, sumber-sumber air itu letak geografisnya berada di daerah selatan atau di wilayah pegunungan. Sementara, konsumen PDAM sebagian besar di wilayah bawah atau utara.

 "Ada miss sedikit, bukan airnya yang kurang. Air cukup banyak, misalkan di Kali Paingan, namun letaknya di daerah atas, sementara masyarakatnya di daerah bawah khususnya daerah utara. Ini memerlukan biaya cukup tinggi untuk pengadaan jaringan tersebut," ujarnya.

Ditambahkan, ada beberapa alternatif pendanaan untuk membangun jaringan tersebut. Pertama, pendanaan bersumber dari APBN. Namun, untuk Kabupaten Pekalongan pendanaan APBN masih konsentrasi di SPAM Regional Petanglong, sehingga untuk usulan yang lain harus menunggu. Alternatif kedua, melibatkan pihak investor atau swasta, namun investor untuk jaringan SPAM air bersih kurang tertarik lantaran investasi jangka panjang. Sedangkan alternatif ketiga adalah kerjasama dengan pihak perbankan. 

"Alternatif ketiga misalkan kerjasama dengan perbankan. Jika harus hutang, rasio antara aset dan hutangnya harus rasional. Dari itu memang ada beberapa kendala," ungkapnya.
Powered by Blogger.