Header Ads

Pemkab Pekalongan Akan Pecahkan Rekor Muri Dengan 12.000 Perempuan Berkebaya

KAJEN – Tim Penggerak (TP) PKK dan Dekranasda dengan dukungan Dinas PMD P3A Dan PKB akan mencatatkan rekor di Museum Rekor Indonesia (MURI),pasalnya12.000 lebih Perempuan Berkebaya dalam tajuk “Sepuluh Ribu Perempuan Berkebaya” akan hadiri Apel Besar Hari Kartini ke-138 Tahun 2017, di Alun-alun Kajen, 22 April mendatang.


Bersama dengan tamu undangan, para peserta Apel Besar juga akan melakukan penandatanganan bentangan kain yang mengelilingi Alun-alun Kajen setelah Deklarasi Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK).  

Demikian disampaikan Ketua TP PKK Kabupaten Pekalongan, Dra, Hj. Munafah di Peringgitan Rumah Dinas Bupati Pekalongan, Selasa (4/4). 

“Dengan adanya Sepuluh Ribu Perempuan Berkebaya, diharapkan budaya berkebaya sebagaimana dilakukan para orang tua kita pada zaman dulu dan sebagian sampai sekarang masih ada yang mengenakan, bisa diteruskan dan dikenalkan pada generasi kita. Ini sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya. Selain itu, diharapkan juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pekalongan,” ujar Munafah didampingi pihak Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB), Kabid Kehumasan Dinkominfo, Tuti Haryati, S.STP, M.Si dan OPD terkait serta pengurus PKK dan Dekranasda Kabupaten Pekalongan.
   
Peserta Apel Besar bisa menikmati makanan tradisional dan minuman yang disediakan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), setelah sajian tersebut dinilai oleh tim Penilai Lomba Sajian Menu Olahan Tradisional untuk mendapatkan 10 sajian terbaik.

Peringatan Hari Kartini akan dimeriahkan bazaar yang akan memamerkan dan menjual kerajinan daerah Kabupaten Pekalongan. Stan bazaar digelar di depan Masjid Al-Muhtarom.

Seusai acara di Alun-alun Kajen, peringatan Hari Kartini dilanjutkan dengan Sarasehan yang menghadirkan narasumber Ibu Tuti Marlina (Pendiri Komunitas Berkebaya) dan Ibu Dr. Alim Ruswantoro (SPAK). Sarasehan  diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Pekalongan.

Selain para perempuan yang berkebaya, para Kepala OPD dan tamu undangan lainnya, pengurus PKK dan Dekranasda yang laki-laki akan mengenakan pakaian tradisional, beskap, dalam kegiatan tersebut. Bahkan para jurnalis yang meliput acara pada 22 April nanti juga diimbau untuk mengenakan kebaya bagi yang perempuan dan beskap bagi yang laki-laki.

Perwakilan dari Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) dari Jakarta, Rahmi menyatakan mendukung penuh penyelenggarakan acara Sepuluh Ribu Perempuan Berkebaya di Kabupaten Pekalongan. Sebelumnya, yakni pada tanggal 3 Maret lalu, digelar acara Seribu Perempuan Berkebaya di Jakarta yang diikuti perempuan dari beberapa daerah di Indonesia, termasuk dari Kabupaten Pekalongan yang dipimpin oleh Ibu Munafah Asip Kholbihi. “Sehingga, dengan rencana acara 10.000 Perempuan Berkebaya yang akan diselenggarakan di Kabupaten Pekalongan, tentu kami dukung penuh,” ungkap Rahmi.
Diceritakan, awal mula terbentuknya KPB, digagas oleh para jurnalis di Jakarta yang suka memakai dress code tertentu, dan pada saat mengenakan pakaian kebaya, akhirnya dibentuklah Komunitas Perempuan Berkebaya. Selain di Jakarta, KPB juga ada di Bogor, Bali, Bandung, Banten, Semarang, Surabaya, dan Medan. Bahkan ada warga Indonesia yang berada di New York juga belum lama ini membentuk KPB.

Pendiri KPB, Tuti Marlina yang sehari-hari berprofesi sebagai fotografer Istana, mengungkapkan harapannya, kebaya bisa dikenal Dunia, sebagaimana kimono Jepang atau sari India.
Powered by Blogger.