Header Ads

Warga Menderita Tiap Tahun Rob Selalu Terjadi

 KAJEN - Pemukiman warga di Desa Jeruksari, Tegaldowo, Mulyorejo, dan Karangjompo sudah tiga bulan tergenang banjir rob dan kini kian kumuh, sehingga warga rentan terserang berbagai macam penyakit. Akibat hampir sebagian ruang di perkampungan terendam banjir rob dengan ketinggian antara 30 centimeter hingga 50 centimeter, warga mulai kesulitan untuk memakamkan jenazah, sehingga warga yang meninggal terpaksa dimakamkan di pemakaman umum desa terdekat yang terbebas dari banjir rob.

Berdasarkan pantauan di Desa Karangjompo dan Mulyorejo,kemarin, ratusan rumah di kedua desa ini terendam banjir rob hingga ketinggian sekitar 30 centimeter. Selama tiga bulan ini, seluruh ruangan di dalam rumah ini terendam air. Maka tak heran, sejumlah perabotan dan bangunan rumah mengalami kerusakan, seperti ambrolnya dinding rumah, lapuknya pintu, dan kerusakan perabotan lainnya. Akibat hidup digenangan air selama 24 jam, masyarakat terutama anak-anak dan
manula banyak yang terserang penyakit, terutama gatal-gatal dan panastis (panas atis (dingin)).

Kondisi di luar rumah, seperti di halaman sekitar rumah, lebih mengenaskan. Sebagian besar halaman rumah sudah layaknya kolam ikan,dengan air yang kotor. Jalan desa yang sudah ditinggikan memang
terbebas dari genangan banjir, namun tidak sedikit jalan di wilayah pemukiman masih terendam banjir, sehingga akses kendaraan sulit.

"Rob sendiri sudah bertahun-tahun lamanya. Untuk tahun ini sudah tiga bulan belum surut. Mas bisa lihat, seluruh lantai di dalam rumah terendam rob hingga 30-an centi. Jangan tanya bagaimana dinginnya. Kita sudah terbiasa. Anak-anak juga sudah kebal dengan rasa dingin yang ada.Namun anak-anak memang sering terserang panastis. Untuk buang hajat juga sulit, sebab WC juga terendam air, sehingga selalu 'kemumbul',"tutur Teguh (45), warga Desa Karangjompo.

Warga sebenarnya sudah berupaya melawan banjir rob dengan meninggikan rumah-rumah mereka. Namun, upaya peninggian rumah ini sepertinya belum membuahkan hasil maksimal. Ketinggian air rob setiap tahunnya seperti berlomba dengan upaya warga untuk meninggikan bangunan lantai rumah
mereka. Sehingga, tak sedikit warga akhirnya menyerah. Mereka menjual rumah mereka dengan harga murah dan pindah ke desa lain yang lebih aman.

"Rumah saya yang di Desa Jeruksari saya jual murah dan pindah ke Kajen. Dari tahun 2010 hingga 2013, saya hitung kenaikan air sekitar 70 centi, berarti sekitar 23 centi naik tiap tahunnya. Setiap kali
saya ninggikan lantai rumah, rob berikutnya tetap saja air masuk ke dalam rumah. Padahal tidak semua warga di pesisir itu mampu untuk meninggikan rumahnya setiap tahunnya," tutur Aris.

Kades Karangjompo, Anita Fatmawati, mengatakan, sedikitnya 900 rumah,dari 1.100 rumah, di desanya terendam banjir rob. Menurutnya, banjir rob sudah terjadi sejak beberapa tahun ini, dan untuk musim hujan kali ini sudah tiga bulan lamanya rob belum surut. Dia mengakui, banjir rob
bertambah parah setiap tahunnya, bahkan rendaman rob kian ke arah selatan dan mendekati jalur Pantura.

"Banjir dan rob cukup parah pada bulan puasa tahun lalu. Warga mengungsi hingga habis Lebaran. Tiga bulan ini kembali terjadi lagi banjir rob," terang dia.

Menurutnya, banjir rob menganggu akses perekonomian dan pendidikan.Masyarakat pun banyak yang terserang penyakit, terutama gatal-gatal.Rasa gatal yang menyerang warga sudah menjadi makanan sehari-hari,sehingga mereka sudah tidak lagi memperdulikannya.

"Untuk lansia dan anak-anak terutama balita sudah sering ada pengobatan gratis dari Puskesmas. Alhamdulilah, mungkin karena sudah terbiasa dengan lingkungan terendam banjir, anak-anak dan balita tubuhnya lebih kebal dari serangan penyakit," ujarnya.

Anak-anak yang hidup di desanya juga memprihatinkan. Selain jalan yang sudah ditinggikan, tidak ada lagi ruang terbuka publik yang bisa digunakan anak-anak desa setempat untuk bermain.

"Di desa sudah tidak ada lagi ruang publik untuk bermain anak-anak. Semuanya terendam
banjir rob. Musala saja sudah mulai terkena dampak rob ini," imbuhnya.

Sedangkan, Kades Mulyorejo, Mubarok, menambahkan, ratusan rumah di desanya juga terendam banjir rob. Pemukiman penduduk kian kumuh,sehingga warga rentan terserang berbagai macam penyakit. Puluhan hektar tambak dan lahan pertanian di desanya juga rusak akibat diterjang banjir rob.

Selain merusak fasilitas publik, seperti jalan dan bangunan, rob juga membuat repot warga setempat ketika akan menguburkan orang mati. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah
daerah bisa membantu desanya untuk menguruk lahan pemakaman umum agar
tidak lagi terendam rob.

"Kemarin ada warga yang meninggal akhirnya dimakamkan di Desa Sembungjambu, Kecamatan Wiradesa. Untuk ada saudaranya di sana sehingga bisa dimakamkan di situ," katanya.
Powered by Blogger.