Header Ads

Kepengurusan DPC Asosiasiasi Profesi Batik Tenun Nusantara (APBTN) Dikukuhkan

KAJEN – Bupati Pekalongan H. Asip Kholbihi, SH., M.Si secara resmi mengukuhkan kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Profesi Batik-Tenun Nusantara (APBTN) Bhuana Kabupaten Pekalongan, Sabtu (18/2) malam.
 
Acara pengukuhan dilaksanakan di Hotel Dafam, dihadiri ratusan pengrajin maupun pelaku usaha batik dan tenun dari Kota dan Kabupaten Pekalongan. Pengukuhan DPC APBTN Kabupaten Pekalongan dilakukan oleh Bupati Pekalongan. Sedangkan pengukuhan DPC APBTN Kota Pekalongan dilakukan oleh Walikota Pekalongan HA Alf Arslan Djunaid, SE.
 
Beberapa nama yang ada dalam struktur kepengurusan APBTN Kabupaten Pekalongan itu, Ketua Umum dijabat M. Farid, Ketua I Nella Sari, dan Sekretaris dipegang M. Zaenuddin. Adapun Bupati Pekalongan menjadi Pelindung, sedangkan Penasehat dijabat Dudung Alie Syahbana dan Drs. Sapuan, adapun sebagai Pembina yaitu Anang Syaifulloh dan Zaenal Arifin.
 
Panitia Pengukuhan, yang juga Sekretaris APBTN Kota Pekalongan, Rininta, dalam laporannya menjelaskan bahwa pengukuhan DPC APBTN Bhuana Kota dan Kabupaten Pekalongan merupakan tindaklanjut dari yang sebelumnya pada tanggal 14 Oktober 2016 terbentuk struktur kepengurusan DPD APBTN Jawa Tengah di Semarang.
 
Dijelaskan, APBTN Bhuana merupakan wadah bagi para pengrajin batik dan tenun, pelaku usaha batik dan tenun, penggemar batik dan tenun, juga pemerhati batik dan tenun agar batik tetap dan selalu ada di Indonesia melalui ide dan kreativitas masing-masing.
 
“Ruang lingkup kegiatan organisasi antara lain di bidang organisasi, usaha, pendidikan, sosial, peningkatan SDM di bidang manajemen batik dan tenun, baik produksi, penjualan dan lain-lain bagi anggota komunitas batik-tenun Indonesia. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta sikap profesionalisme para anggota asosiasi bekerjasama dengan instansi pemerintah maupun swasta dan stakeholder terkait,” terangnya.
 
Bupati Asip dalam sambutan mengharapkan ada kerjasama sinergis antara Pemkab Pekalongan dengan DPC APBTN Kabupaten Pekalongan. “Apalagi, bagaimanapun batik dan tenun tidak bisa dilepaskan Pekalongan,” ungkapnya.
 
Lebih lanjut, Bupati menyampaikan bahwa sejarah panjang batik dan tenun di wilayah Pekalongan ini telah lahir sejak abad ke-8. Pekalongan pernah dikenang oleh Sultan Syarif Hidayatullah Cirebon karena telah memberikan karya terbaik dari putra-putra Pekalongan untuk Permaisuri Sultan. Dan saya dengar juga bahwa pada saat Sekjen PBB Ban Ki-Moon saat serah terima jabatan bingkisannya adalah batik. 
 
“Alhamdulillah kita punya nenek moyang, para leluhur yang telah mewariskan kepada kita semua tentang bagaimana  mempertahankan warisan adiluhung yaitu seni batik. Karena dengan batik dan tenun inilah kita bisa hidup dari generasi ke generasi menjadi orang-orang yang bebas mengembangkan inisiasinya, kreasinya serta kita bebas bertarung di seluruh pasar nusantara dan dunia dalam rangka “brayan” (bersama-sama) mendapatkan rezeki yang halal dari Allah SWT,” ujar Bupati.
 
Diterangkan Bupati, semangat “brayan” inilah yang diwariskan oleh para leluhur kepada kita semua. Sebagai contoh nyata didalam proses produksi batik dan tenun tidak ada dan tidak boleh ada aspek individualitas yang terlalu tinggi, kita memiliki para penggambar, kita punya penenun, pemasar, dan lain-lain. Sehingga dengan konsep “brayan” batik inilah mari kita ciptakan Pekalongan Raya menjadi wilayah yang betul-betul mandiri, wilayah yang betul-betul bisa kita ciptakan sebagai sebuah wilayah yang sejak dulu kala dikenal sebagai orang-orang yang pandai berwirausaha. 
 
Kegiatan pengukuhan diisi pula dengan penyerahan penghargaan Life Time Achievement dari APBTN Bhuana Kota dan Kabupaten Pekalongan kepada dua tokoh batik dan tenun Pekalongan, yakni kepada Oey Soe Tjoen dan Abdul Kadir Muhammad atau Ridaka. Penghargaan diserahkan oleh Ketua APBTN Bhuana Kota dan Kabupaten Pekalongan kepada generasi penerus kedua tokoh tersebut.
 
Acara tersebut dirangkai pula dengan diskusi panel bertemakan”Prospektif Pasar Batik dan Tenun Indonesia”. Ada lima orang tokoh yang dijadikan sebagai narasumber dalam diskusi ini. Mereka adalah Maulana Habib Luthfi bin Hasyim bin Yahya (ulama dan budayawan), Dudung Alie Syabana (budayawan, wirausahawan batik, penasehat APBTN Bhuana Kabupaten Pekalongan), H. Nur Cahyo (wirausahawan batik dan penasehat APBTN Bhuana Kota Pekalongan), H. Muhammad Ali Jufri (wirausahawan batik dan Ketua ASEPHI Kota Pekalongan), serta Hj. Thuraya Abdul Kadir (wirausahawan tenun).
Powered by Blogger.