Header Ads

Warga Petungkriyono Nyadran Setiap Kamis Wage Bulan Sura

Petungkriyono salah satu tempat terindah dikabupaten pekalongan ternyata masih memegang tradisi dengan teguh,Salah satunya tradisi nyadran setiap Kamis Wage di bulan Sura. Warga Desa
Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono,setiap tahun melarung kepala kerbau bule atau
kambing di Telaga Mangunan dan menyiapkan sesaji 1.000 nasi tumpeng.

Waktu menunjukan pukul 09.00 WIB,pada kamis (6/10), Namun
udara masih terasa begitu dingin hingga menusuk tulang. Kabut pun
masih nampak menyelimuti Bukit Mangunan di Desa Tlogohendro, Kecamatan
Petungkriyono. Di lokasi dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl ini,
ratusan warga desa setempat nampak dengan semangat berjalan beriringan
menyusuri jalan setapak sejauh 2 kilometer menuju ke Telaga Mangunan
yang berada di atas bukit. Mereka membawa seribu nasi tumpeng dan
kepala kambing yang akan dilarung di telaga itu sebagai persembahan
kepada leluhur mereka.

Tradisi ini juga diikuti oleh warga dari luar Petungkriyono, seperti
dari Batang, Pekalongan, Pemalang, dan Banjarnegara. Pasalnya, mereka
mempercayai jika air telaga mampu menyembuhkan berbagai penyakit,
mempercepat jodoh, dan mempermudah usaha. Maka tak heran, ratusan
warga rela antre untuk mengambil air telaga setelah juru kunci, Mbah
Harto, melakukan ritual sesembahan.

Setelah satu jam berjalan, memasuki pintu gerbang Telaga Mangunan,
juru kunci Mbah Harto masuk ke sebuah gubuk kecil dan melakukan ritual
di depan sebuah batu sembari membakar dupa. Warga secara berkelompok
ikut membakar dupa yang telah dipersiapkan, sembari berdoa sesuai
dengan keinginannya.

Sekitar pukul 12.00, ritual ini selesai. Juru
kunci diikuti warga kemudian menuju Telaga Mangunan. Warga duduk di
tepi Telaga Mangunan dan menata seribu tumpeng yang telah dibawa.
Dipimpin juru kunci, warga kembali berdoa, memanjatkan keselamatan,
kesehatan, rezeki, dan jodoh.

"Nyadran di Telaga Mangunan ini dilakukan setahun sekali. Setiap Kamis
Wage di bulan Sura. Kali ini yang dilarung kepala kambing. Untuk tahun
depan, kepala kerbau bule, sebab untuk kepala kerbau bule memang
dilarung setiap dua tahun sekali," tutur Purwo (40), warga setempat.

Menurutnya, tradisi nyadran itu sebagai wujud rasa syukur atas
diberikannya rezeki berupa hasil pertanian yang melimpah. Dengan
kegiatan itu, juga diharapkan masyarakat di wilayah pegunungan ini
terlepas dari segala bencana.

"Telaga Mangunan ini merupakan sumber
pengairan bagi masyarakat Tlogohendro dan Petungkriyono, bahkan sampai
ke Wonotunggal, Kabupaten Batang. Makanya, tadi banyak juga warga
Batang dan Banjarnegara yang ikut tradisi ini," katanya.

Rojii (37), warga setempat, mengatakan, di Telaga Mangunan dipercaya
bersemayam ular besar berkepala manusia bernama Nyi Baru Klinting.
Menurut kisah turun-temurun di Petungkriyono, Nyi Baru Klinting
bersembunyi di telaga itu saat kalah melawan Kaki Bagus, tokoh
penyebar ajaran Islam di Petungkriyono. Kisah ular Baru Klinting dan
Kaki Bagus tidak lepas dari situs Sigedong di Desa Yosorejo.

Jejak-jejak sejarah purbakala masih bisa ditemukan di situs Sigedong,
di antaranya masih ada watu lumpang, batu berundak, alat-alat rumah
tangga kuno, gong, dan arca. Bahkan, pohon-pohon di situs Sigedong
tidak ada yang lurus, namun bengkok karena dipercaya sebagai tempat
Baru Klinting melilitkan tubuhnya.
Diberdayakan oleh Blogger.