Header Ads

Hutan Petungkriyono Akan Dijadikan Cultural Technoforestry Park

KAJEN - Kawasan hutan di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, sebagai 'heart of java', menyimpan potensi unik dan luar biasa. Keanekaragaman flora dan faunanya sangat tinggi. Beberapa jenis
tanaman dan satwa langka yang terancam punah, bahkan paling langka di dunia, masih ditemukan di wilayah hutan seluas 5.300 hektar pada ketinggian 1.294 mdpl ini. Selain itu, dengan kondisi hutan hujan tropis yang masih 'perawan', kawasan hutan Petungkriyono merupakan paru-paru Jawa Tengah.

Oleh karena itu, Pemkab Pekalongan bekerjasama dengan Kementrian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) dan Yayasan Kehutanan Indonesia
(YKI) akan menjadikan kawasan hutan Petungkriyono menjadi Kawasan
Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK), dengan nama Petung Cultural
Technoforestry Park. MoU akan dilakukan Bupati Pekalongan, H Asip
Kholbihi SH MSi dengan Perum Perhutani dan YKI pada Jumat (5/8) besok.

Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, San Afri Awang,
direncanakan menghadiri MoU tersebut, dilanjutkan tinjauan ke lokasi.
Untuk mempersiapkan kunjungan ke kawasan hutan di Petungkriyono, Dinas
Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan, Bagian
Humas, Perum Perhutani, Dinas Pariwisata, YKI, dan Muspika
Petungkriyono melakukan survei lokasi, Rabu (3/8) kemarin.

Kabid Kehutanan, Heru Cahya Nugraha SHut MM, mengatakan, dijadikannya
kawasan hutan di Petungkriyono sebagai KHDTK dengan nama Petung
Cultural Tecnoforestry Park merupakan inisiatif progresif Bupati
Pekalongan, Asip Kholbihi. Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah
daerah, Perum Perhutani, dan Yayasan Kehutanan Indonesia akan
melakukan Mou tripartit di Kajen, Jumat (5/8).

"Pengelolaannya nanti dalam bentuk kawasan hutan dengan tujuan khusus. Dirjen Planologi
direncanakan ikut hadir saat MoU dan dilanjutkan pantauan ke lokasi,"
terang Heru.

Bupati Asip Kholbihi mengatakan, pemda akan
menjadikan kawasan hutan di Petungkriyono sebagai kawasan penelitian,
taman alam, dan laboratorium alam untuk penelitian flora dan fauna,
sekaligus sebagai tempat wisata hutan yang representatif. Kawasan
hutan Petungkriyono diharapkan bisa menjadi lokasi kajian-kajian
terkait perubahan iklim dan isu lingkungan lainnya.

Dikatakan, filosofi pengelolaan kawasan hutan di Petungkriyono adalah
tidak boleh ada yang menebang, namun yang ada adalah menanam. Karena
selama ini, lanjut dia, pembangunan di hulu masih jarang diperhatikan.
Menurutnya, pemda akan membangun dengan konsep keseimbangan.

"Hulu berarti hutan akan kita bangun secara maksimal. Ini untuk mengimbangi
pembangunan yang begitu deras di hilir, karena sebentar lagi kita akan
melakukan industrialisasi di hilir, maka hulunya kita perkuat," ujar
Asip.

Menurutnya, pengelolaan kawasan hutan di Petungkriyono akan dilakukan
bersama dengan KPH Perum Perhutani Pekalongan Timur. Dengan dijadikan
sebagai KHDTK, kawasan hutan Petungkriyono akan dijaga oleh semua
kalangan, karena merupakan paru-paru Jawa Tengah. Untuk menjaganya,
pemda akan menerbitkan regulasi lokal, seperti di hutan Petungkriyono
tidak boleh ada penebangan.

"Kita juga merencanakan ada rekening hijau
yang ini akan kita mintakan partisipasi dari kredit-kredit kendaraan
bermotor dan kredit-kredit industri di tingkat hilir yang berpotensi
mencemari lingkungan. Kontribusi ini nanti kita peruntukan
seluas-luasnya untuk menjaga kawasan hutan Petungkriyono. Regulasinya
ini masih kita godok," imbuhnya.(HW)
Powered by Blogger.