Header Ads

Tas Cantik dari Tali Kur Diminati Warga


KAJEN - Tas dan dompet wanita saat ini dibuat dari bahan yang bervariasi, mulai dari bahan kulit hingga dari tali dan dari berbagai bahan lainnya. Yang cukup diminati saat ini adalah tas dari bahan tali. Suprapti (45), perajin tas, warga Kepatihan RT 9 RW 4 Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, membuat tas dan dompet berbagai model dari bahan tali kur. Dia menamai produknya sebagai tas makram. 
 
Puluhan tas sudah dihasilkan Suprapti bersama Yeni (38), si adik ipar, tanpa menggunakan alat bantu. Saat ini, mereka memiliki sekitar 15 stok tas dan dompet, termasuk 5 pesanan. Kebanyakan tas yang dibuat mereka terdiri dari kombinasi beberapa warna, sehingga terlihat begitu menarik. Beberapa lainnya menggunakan tali kur warna natural seperti hitam, abu-abu, coklat tua dan coklat muda. Motif yang dibuat antara lain berupa motif daun, jagung, melati, pagar, zig-zag, halilintar, dan ketupat. “Namun, pelanggan bisa memesan tas sesuai keinginan, baik bentuk dan warnanya,” ungkap Suprapti ketika dijumpai di rumah sekaligus tempat produksinya, baru-baru ini. Dompet dan tas tersebut dijual dengan harga Rp. 40.000 hingga Rp. 250.000 per buah.  
 
Suprapti mengatakan, tidak bisa mengambil untung terlalu besar dari tas dan dompet yang dijualnya, pasalnya harga bahan pembuatan tas dan dompet cenderung naik dari waktu ke waktu. Selain tali kur, bahan yang dibutuhkan untuk membuat kerajinan tersebut yakni handle, risleting besar dan kecil, kain furing, busa, serta ring kait. Sejak menjadi perajin tas dan dompet tali lur, Suprapti dan Yeni tidak menjahit sendiri kain furing, karena memerlukan mesin jahit dan keahlian, ketelitian dan kerapian. Mereka membuatkan furing ke penjahit dengan ongkos Rp. 15.000 untuk tas ukuran besar.
 
Suprapti menggeluti kerajinan tas dan dompet dari bahan tali kur sejak setahun lalu, yang awalnya mendapatkan ilmu dari teman SMAnya yang tinggal di Pasuruan, Jawa Timur, melalui komunikasi BBM. Setelah benar-benar bisa, Suprapti kemudian mengajarkan pada Yeni dan akhirnya mereka bekerja bersama-sama memenuhi pesanan dan menyediakan beberapa stok. Pesanan baru datang dari sekitar rumah mereka saja dan teman-teman dekat. 
 
Mereka mengaku belum berani memasarkan lebih luas atau via internet produk mereka karena selama ini mengerjakan kerajinan tersebut hanya sambilan, di sela-sela melayani pembeli di warung kelontongnya. 

“Kami belum berani mengonline-kan produk kami, karena khawatir tidak bisa memenuhi permintaan yang datang,” ujar Suprapti. 

Selain itu, Suprapti juga mengaku kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya tersebut. Oleh karena itu, dia berharap mendapatkan bantuan permodalan dari Pemerintah.
Powered by Blogger.